Teori Anomie

TEORI ANOMIE

DI SUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA HUKUM PIDANA DAN KRIMINOLOGI

Dosen pengampu: Asri Arinilasari

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Disusun Oleh:

Novian Azis Efendi (a 220100039).

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

PRAKATA

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, akhitnya saya dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing Asri Arinilasari S.Pd. dengan tema “TEORI ANOMIE,” guna melengkapi melengkapi tugas akhir semester II tahun pelajaran 2010/2011.

Saya menyadari bahwa di dalam penyusunan tugas ini masih ada kekurangan. Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan saya. Untuk itulah, Kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat diharapkan, demi kesempurnaan tugas ini

Penulis

Novian Azis Efendi

 

 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………i

PRAKATA ……………………………………………………………………………….ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………..iii

BAB I          TEORI ANOMIE

  1. ANOMIE …………………………………………………………………………1
    1. Konsep Anomie ………………………………………………………1
    2. Kritik Terhadap Konsep Anomie ………………………………..2
  2. PEMIKIRAN TEORI ANOMIE ……………………………………………..3
    1. Pemikiran Emille Durkheim tentang Anomie ………………..4
    2. Pemkiran Robert K. Merton ……………………………………….6
    3. Cara mengatasi Anomie …………………………………………….8

BAB II         CAKUPAN ANOMIE

  1. ANOMIE SEBAGAI KEKACAUAN PADA DIRI INDIVIDU ……….10
  2. ANOMIE SEBAGAI KEKACAUAN MASYARAKAT …………………11
  3. ANOMIE DALAM SASTRA DAN FILM …………………………………11

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………..13

BAB I

TEORI  ANOMIE

 

  1. A.    ANOMI

Pada tahun 1930-an khususnya masyarakat Eropa telah banyak menarik perhatian pakar-pakar sosiologi. Hal itu disebabkan karena telah terjadi perubahan besar pada struktur masyarakat sebagai akibat depresi yaitu, tradisi yang menghilang dan telah terjadi “deregulasi” di dalam masyarakat. Keadaan ini yang dinamakan sebagai “anomi” menurut Durkheim (Williams III & Mcshane, 1988)

  1. 1.      Konsep Anomi

Konsep Durkheim tentang anomi (teori anomi) termasuk kelompok teori Undercontrol (lihat bagian teori Hagan, 1987). Riset Durkheim tentang “suicide” (1897) atau bunuh diri dilandaskan pada asumsi bahwa rata-rata bunuh diri yang terjadi di masyarakat yang merupakan tindakan akhir puncak dari suatu anomi: bervariasi atas dua keadaan sosial, yaitu social integration dan social regulation.

Durkheim mengemukakan bahwa bunuh diri atau suicidie berasal dari dari 3 kondisi sosial yang menakan (strees) yaitu 1) deregulasi kebutuhan atau anomi, 2) regulasi yang keterlaluan atau fatalisme, 3)kurangnya integrasi struktural atau egoisme. Hipotesis ke-4 dari suicidie menunjukan pada proses sosialisasi dari seorang individu kepada suatu nilai budaya “alturistik” yang mendorong yang bersangkutan untuk melaksanakan bunuh diri.

Konsep yang menarik pada teori Durkheim adalah kegunaan konsep dimaksud lebih lanjut untuk menjelaskan penyimpangan tingkah laku yang disebabkan karena kondisi ekonomi di masyarakat.

Talcott Parsons pernah disebut anomi salah satu konsep yang benar-benar beberapa sosiologis.That was a long time ago and since then anomie theory has received variable attention. Itu lama lalu dan sejak itu teori anomi telah mendapat perhatian variabel.Whereas Durkheim’s writings on anomie have been discussed minimally but continually, it has particularly been Robert Merton’s theory of social structure and anomie that managed to establish a veritable tradition of anomie scholarship. Sedangkan tulisan-tulisan Durkheim tentang anomie telah dibahas minimal tapi terus-menerus, telah terutama menjadi teori Robert Merton struktur sosial dan anomi yang berhasil membangun suatu tradisi yang sesungguhnya dari beasiswa anomi.Throughout the 1950s and 1960s, anomie like no other concept stimulated debate and theoretical and empirical research. Sepanjang tahun 1950-an dan 1960-an, anomi seperti tidak ada konsep lain yang mendorong perdebatan dan penelitian teoritis dan empiris.But coinciding with the relative demise of the functionalist paradigm, the concept abruptly lost its appeal to mainstream sociologists. Tapi bertepatan dengan runtuhnya relatif dari paradigma fungsionalis, tiba-tiba kehilangan konsep banding ke sosiolog mainstream.It may come as somewhat of a surprise, then, that in more recent years anomie has witnessed a revival, as can be seen from the many new journal articles on the issue, a new generation of scholars who explicitly position their work in the anomie tradition, and two recent book-length studies, one in a popular series on theoretical criminology (Adler, Freda, and William S. Laufer, eds, Advances in Criminological Theory , Vol. 6: The Legacy of Anomie [Transaction, 1995]) and the volume presently under review. Ini mungkin datang sebagai agak mengejutkan, kemudian, bahwa dalam tahun-tahun terakhir telah menyaksikan kebangkitan anomi, seperti dapat dilihat dari banyak artikel jurnal baru pada masalah, generasi baru ulama yang secara eksplisit posisi pekerjaan mereka dalam tradisi anomi, dan dua terakhir buku-panjang studi, satu dalam seri populer di kriminologi teoritis (Adler, Freda, dan William S. Laufer, eds, Kemajuan dalam Teori Criminological, Vol 6:. Warisan dari Anomie [Transaksi, 1995]) dan volume saat ini sedang diperiksa.

  1. 2.      Kritik Terhadap Konsep Anomie

Traub dan Little (1975) memberikan krtiknya sebagai berikut:

Teori anomi beanggapan bahwa setiap masyarakat terdapat nilai-nilai dan norma-norma yang dominan yang diteima sebagian besar masyarakat, dan teori ini tidak menjelaskan secara memadai, mengapa hanya individu-individu tertentu dari golongan masyarakat bawah yang melakukan penyimpangan-penyimpangan.

Choen (1955) mengemukakan teori anomi tidak dapat menjelaskan secara memadai kegiatan kegiatan anak dan remaja delinquent.

Cullen (1983) menyampaikan kritiknya:

  1. Bahwa Durkheim tidak secara jelas merinci sifat dari keadaan sosial yang sedang terjadi.
  2. Durkheim tidak konsisten dalam menjelaskan bagaimana “current anomy” menyebabkan bunuhdiri.
  3. Dalam seluruh tulisannya (suicidie) Durkheim tidak berhasil membahas bagaiman akondisi sosial dapat membentuk penyimpangan tingkah laku dalam masyarakat.

Teori anomi (Merton) diperbaiki oleh Cloward Ohlin (1959) dengan mengetengahkan bahwa, terdapat cara-cara untuk mencari sukses, yaitu denga “Legitimate Illegitimate”.

  1. B.     PEMIKIRAN TEORI ANOMIE

“a condition of hopelessness caused by a breakdown of rules of conduct, and loss of belief and sense of purpose in society or in an individual” (Chambers 20th Century Dictionary)

“as state of lawlessness existing at times of abrupt social change, and affecting in particular the state of ‘normlessness’, which exists when the insatiable desires of humans are no longer controlled by society”  (Durkheim, E., 1933, The Division of Labour in Society, Glencoe, Illinois: Free Press).

Durkheim dalam bukunya yang berjudul the Duvisuon of Labor In Society
(1893), menggunakan istilah anomie untuk menggambarkan keadaan deregulation di dalam masyarakat. Keadaan deregulasi oleh Durkheim diartikan sebagai tidak ditaatinya aturan-aturan yang terdapat dalam masyarakat dan orang tidak tahu apa yang diharapkan dari orang lain. Keadaan deregulation atau normlessness inilah yang menimbulkan perilaku deviasi.

Pada tahun 1938 Merton mengambil konsep anomi untuk menjelaskan perbuatan deviasi di amerika. Tetapi konsep dari Merton berbeda dengan apa yang dipergunakan oleh Durkheim. Menurut Merton, dalam setiap masyarakat terdapat tujuan-tujuan tertentu yang ditanamkan kepada seluruh warganya. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat sarana-sarana yang dapat dipergunakan. Tetapi dalam kenyataan tidak setiap orang dapat menggunakan sarana-sarana yang tersedia. Hal ini menyebabkan penggunaan cara yang tidak sah dalam mencapai tujuan. Dengan demikian akan timbul penyimpangan-penyimpangan dalam mencapai tujuan.

Dalam perkembangan selanjutnya, Merton tidak lagi menekankan pada tidak meratanya sarana-sarana yang tersedia, tetapi lebih menekankan pada perbedaanperbedaan struktur kesempatan. Dalam setiap masyarakat selalu terdapat struktur sosial. Struktur sosial, yang berbentuk kelas-kelas, menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan kesempatan dalam mencapai tujuan. Keadaan-keadaan tersebut (tidak meratanya sarana-sarana serta perbedaan perbadaan struktur kesempatan) akan menimbulkan frustasi di kalangan para warga yang tidak mempunyai kesempatan dalam mencapai tujuan. Dengan demikian ketidakpuasan, konflik, frustasi dan penyimpangan muncul karena tidak adanya kesempatan bagi mereka dalam mencapai tujuan. Situasi ini akan menimbulkan keadaan di mana para warga tidak lagi mempunyai ikatan yang kuat terhadap tujuan serta sarana-sarana atau kesempatan-kesempatan yang terdapat dalam masyarakat. Hal inilah yang dinamakan anomi.

  1. 1.        Pemikiran Emille Durkheim tentang Anomie

Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organik, hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.

Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.

Anomie mengacu pada keadaan lingkungan di mana masyarakat gagal untuk melaksanakan regulasi yang memadai atau kendala atas tujuan dan keinginan individu anggota-anggotanya (Durkheim, 1951: 241-276). It is important to note that Durkheim’s conceptualization of anomie is based on a general assumption about the psychological or biological nature of individual human beings. Penting untuk dicatat bahwa konseptualisasi Durkheim tentang anomie didasarkan pada asumsi umum tentang sifat psikologis atau biologis manusia individu. He wrote that the human “capacity for feeling is in itself an insatiable and bottomless abyss” (1951: 247). Dia menulis bahwa manusia “kapasitas untuk perasaan itu sendiri merupakan jurang terpuaskan dan tak berdasar” (1951: 247). From Durkheim’s viewpoint, individual happiness and well-being depend on the ability of society to impose external limits on the potentially limitless passions and appetites that characterize human nature in general. Dari sudut pandang Durkheim, kebahagiaan individu dan kesejahteraan bergantung pada kemampuan masyarakat untuk memaksakan batas eksternal pada nafsu berpotensi terbatas dan selera yang mencirikan sifat manusia pada umumnya. Under the condition of anomie, however, society is unable to exert its regulatory and disciplining influences. Dalam kondisi anomi, bagaimanapun, masyarakat tidak dapat mengerahkan pengaruhnya peraturan dan mendisiplinkan. Human desires are left unchecked and unbounded—the individual “aspires to everything and is satisfied with nothing” (1951: 271). Keinginan manusia yang dibiarkan dan tak terbatas-individu “bercita-cita untuk segala sesuatu dan merasa puas dengan apa-apa” (1951: 271). Out of disillusionment and despair with the pursuit of limitless goals, many individuals in the anomic society take their own lives. Keluar dari kekecewaan dan putus asa dengan mengejar tujuan terbatas, banyak individu dalam masyarakat anomic mengambil kehidupan mereka sendiri. Therefore, high rates of anomic suicide are the product of the environmental condition of anomie. Oleh karena itu, tingginya tingkat bunuh diri anomik adalah produk dari kondisi lingkungan anomi.

Durkheim berpendapat bahwa kondisi anomi dapat menjelaskan setidaknya tiga jenis fenomena bunuh diri:

  1. First, in historical data on suicide rates inDalam data historis pada tingkat bunuh diri di Europe Eropa , Durkheim found that sharp increases or decreases in the economic prosperity of a society were associated with increasing rates of suicide.Durkheim menemukan bahwa kenaikan tajam atau penurunan kesejahteraan ekonomi masyarakat dikaitkan dengan tingkat peningkatan bunuh diri. Suicide rates were lowest during times of economic stability. Tingkat bunuh diri terendah selama masa stabilitas ekonomi.
  2. Di samping kasus-kasus di mana anomi dihasilkan dari perubahan ekonomi yang pesat, Durkheim juga disajikan bukti bahwa “salah satu lingkup kehidupan sosial-bidang perdagangan dan industri-sebenarnya dalam keadaan kronis” anomie (1951: 254, penekanan ditambahkan).
  3. Durkheim menganalisis bagaimana regulasi yang tidak memadai hasrat seksual juga bisa menghasilkan tingkat tinggi bunuh diri anomik antara kelompok-kelompok sosial tertentu. Single males, in particular, are in social circumstances where their unrestrained pursuit of physical pleasure is likely to lead to disillusionment and suicide. Laki-laki tunggal, khususnya, dalam keadaan sosial dimana mereka mengejar terkendali kesenangan fisik kemungkinan akan menimbulkan kekecewaan dan bunuh diri. Marriage functions to regulate sexual desire, and husbands typically have lower rates of suicide than unmarried males. Pernikahan berfungsi untuk mengatur hasrat seksual, dan suami biasanya memiliki tingkat yang lebih rendah daripada laki-laki bunuh diri yang tidak menikah. Thus, the concept of anomie is used by Durkheim to explain a variety of social facts. Dengan demikian, konsep anomi digunakan oleh Durkheim untuk menjelaskan berbagai fakta sosial. Variations in suicide rates across time, by occupation and by marital status, are all linked theoretically to this general environmental condition. Variasi tingkat bunuh diri sepanjang waktu, dengan pekerjaan dan status perkawinan, semua dikaitkan secara teoritis untuk kondisi lingkungan umum.

Adapun pemikiran Durkheim sebagai berikut:

  • Kejahatan itu normal ada di semua masyarakat. Tidak mungkin menghilangkan kejahatan
  • Terdapat tingkat kriminalitas tertentu yang akan sehat bagi kualitas organisasi sosial masyarakat
  • Kriminalitas menjadi tidak sehat apabila hukum tidak cukup lagi mengatur interaksi antar berbagai elemen masyarakat
  • Anomi selalu menghasilkan tingkat kejahatan yang berlebihan
  • Umumnya, anomi terjadi akibat faktor pembagian kerja yang tidak seimbang a.l. karena:

–     Kombinasi konflik industrial & finansial

–     Pembagian kelas yg ketat dan tidak alamiah

–     Pembagian kerja yang abnormal; pekerja menjadi teralienasi dari pekerjaannya

  • Saat terjadi gejolak industrial & finansial, anomi terjadi, sebagai hasil dari kurangnya norma atau aturan sosial terkait aspirasi dan kemauan manusia
  • Kejahatan lalu dikaitkan dengan hilang atau melemahnya norma dan aturan sosial selaku kontrol social
  1. 2.        Pemikiran Robert K. Merton

Anomie Teori (kadang-kadang juga disebut teori regangan atau sarana-tujuan teori)

In one of the most famous articles in sociology, its first version written in the 1940s, Robert Merton begins by addressing biological explanations of deviance and concludes that biology cannot account for variations from one society to the next in the nature and extent of deviance.     Dalam salah satu artikel yang paling terkenal dalam sosiologi, versi pertama yang ditulis dalam tahun 1940-an, Robert Merton dimulai dengan membahas penjelasan biologis penyimpangan dan menyimpulkan biologi yang tidak dapat menjelaskan variasi dari satu masyarakat ke depan dalam sifat dan tingkat penyimpangan.His primary interest is not so much why a particular individual deviates, but why the rates of deviance differ so dramatically in different societies and for different subgroups within a single society. Bunga utamanya adalah tidak begitu banyak mengapa menyimpang individu tertentu, tetapi mengapa tingkat penyimpangan berbeda secara dramatis dalam masyarakat yang berbeda dan untuk subkelompok yang berbeda dalam masyarakat tunggal. Merton works within the overall functionalist perspective that we have already addressed, which puts a great deal of emphasis on the role of culture, particularly its unifying aspects, but now Merton adapts a concept he borrows from Durkheim to analyze situations in which culture creates deviance and disunity. Merton bekerja dalam perspektif fungsionalis keseluruhan bahwa kita telah ditangani, yang menempatkan banyak penekanan pada peran budaya, terutama aspek pemersatu, tetapi sekarang Merton mengadaptasi sebuah konsep ia meminjam dari Durkheim untuk menganalisis situasi di mana budaya menciptakan penyimpangan dan perpecahan. In Durkheim’s usage, anomie referred to a situation in which cultural norms break down because of rapid change. Dalam penggunaan Durkheim, anomi disebut situasi di mana norma-norma budaya memecah karena perubahan yang cepat. Anomic suicide, for example, can occur during a major economic depression, when people aren’t able to achieve the goals that they have learned to pursue, but it can also occur when the economy experiences a boom and suddenly the sky’s the limit–people don’t know how to limit their goals and be satisfied with their achievements. Bunuh diri anomik, misalnya, dapat terjadi selama depresi ekonomi yang besar, ketika orang tidak mampu mencapai tujuan yang telah mereka pelajari untuk mengejar, tetapi juga dapat terjadi ketika perekonomian mengalami booming dan tiba-tiba langit batasnya – orang tidak tahu bagaimana untuk membatasi tujuan mereka dan puas dengan prestasi mereka.

Merton changes the concept slightly, to refer to a situation in which there is an apparent lack of fit between the culture’s norms about what constitutes success in life ( goals) and the culture’s norms about the appropriate ways to achieve those goals ( means).     Merton perubahan konsep sedikit, untuk merujuk pada situasi di mana ada kurang jelas kesesuaian antara norma-norma budaya tentang apa yang merupakan keberhasilan dalam hidup (tujuan) dan norma-norma budaya tentang cara-cara yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut (berarti).

In Merton’s formulation, anomie becomes the explanation for high rates of deviant behavior in the US compared with other societies, and also an explanation for the distribution of deviant behavior across groups defined by class, race, ethnicity, and the like. Dalam formulasi Merton, anomi menjadi penjelasan untuk tingginya tingkat perilaku menyimpang di AS dibandingkan dengan masyarakat lain, dan juga penjelasan untuk distribusi perilaku menyimpang di seluruh kelompok yang didefinisikan oleh kelas, ras, etnisitas, dan sejenisnya. The US, in fact, Merton sees as a polar example of a society in which success goals (often defined primarily in monetary terms) are emphasized for everyone in the culture, and people are criticized as being quitters if they scale back their goals. AS, pada kenyataannya, Merton melihat sebagai contoh kutub dari suatu masyarakat di mana keberhasilan tujuan (sering didefinisikan terutama dalam hal moneter) ditekankan untuk semua orang dalam budaya, dan orang-orang dikritik sebagai berhenti merokok jika mereka kembali skala tujuan mereka. On the other hand, the culture is at best ambivalent in its norms about the apporpriate means of being sucessful. Di sisi lain, budaya adalah yang terbaik ambivalen dalam norma-norma tentang cara apporpriate menjadi sucessful. Certainly hard work and ambition, in school and then in the economic marketplace, are the culturally approved means of success, but there’s also an element of admiration for the robber baron and the rogue who breaks the rules about appropriate means but achieves success goals by deviant means. Tentu kerja keras dan ambisi, di sekolah dan kemudian di pasar ekonomi, sarana budaya yang disetujui keberhasilan, tapi ada juga unsur kekaguman untuk baron perampok dan nakal yang melanggar aturan tentang cara yang tepat, tetapi mencapai tujuan keberhasilan dengan menyimpang berarti. In America, in other words, success is probably rated a lot more highly than virtue. Di Amerika, dengan kata lain, sukses adalah mungkin dinilai jauh lebih tinggi dari kebajikan.

Adapun Pemikiran Robert K. Merton mengennai anomie:

  • Anomie terjadi ketika kebutuhan dan keinginan melampaui apa yang dapat dipenuhi melalui “socially acceptable ways”
  • Keinginan manusia sebenarnya didefinisikan oleh masyarakat itu sendiri. Setiap masyarakat menciptakan hal-hal yang dianggap berharga dan layak diupayakan pemenuhannya
  • Bila masyarakat ingin tetap sehat, kesediaan seseorang untuk tetap mempergunakan cara-cara yang sah perlu dihargai.
  • Jika tekanannya pada tujuan tanpa kendali pada bagaimana mencapainya, situasi anomik terjadi
  • Selain kesenjangan antara cara dan tujuan, kriminalitas juga disebabkan oleh perasaan diperlakukan tidak adil atau karena kesempatan berbeda
  • Inilah teori penyimpangan perihal “tujuan” (structural means) dan “cara” (desired goals):
    • Conformity:    cara +              tujuan +
    • Innovation:      cara –               tujuan +
    • Ritualism:        cara +              tujuan –
    • Retreatism:      cara –               tujuan –
    • Rebellion:        cara –               tujuan -/+
  1. 3.        Cara Mengatasi Anomie

Merton mengemukakan lima cara untuk mengatasi anomi, yaitu:

a.  Konformitas (Konforming) , yaitu suatu keadaan dimana warga masyarakat tetap menerima tujuan-tujuan dan sarana-sarana yang terdapat dalam masyarakat karena adanya tekanan moral;

b.  Inovasi (Innovation ) , yaitu suatu keadaan di mana tujuan yang terdapat dalam masyarakat diakui dan dipelihara tetapi mereka mengubah sarana21 sarana yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya untuk mendapatkan / memiliki uang yang banyak seharusnya mereka menabung. Tetapi untuk mendapatkan banyak uang secara cepat mereka merampok bank;

c.  Ritualisme (Ritualism) , adalah suatu keadaan di mana warga masyarakat menolak tujuan yang telah ditetapkan dan memilih sarana-sarana yang telah ditentukan;

d.  Penarikan Diri (Retreatisme) merupakan keadaan di mana para warga menolak tujuan dan sarana-sarana yang telah tersedia dalam masyarakat;

e.  Pemberontakan (Rebellion) adalah suatu keadaan di mana tujuan dan sarana-sarana yang terdapat dalam masyarakat ditolak dan berusaha untuk mengganti/ mengubah seluruhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                   BAB II

                                                     CAKUPAN ANOMIE

  1. A.    ANOMIE SEBAGAI KEKACAUAN PADA DIRI INDIVIDU

Émile Durkheim, sosiolog perintis Prancis abad ke-19 menggunakan kata ini dalam bukunya yang menuraikan sebab-sebab bunuh diri untuk menggambarkan keadaan atau kekacauan dalam diri individu, yang dicirikan oleh ketidakhadiran atau berkurangnya standar atau nilai-nilai, dan perasaan alienasi dan ketiadaan tujuan yang menyertainya. Anomie sangat umum terjadi apabila masyarakat sekitarnya mengalami perubahan-perubahan yang besar dalam situasi ekonomi, entah semakin baik atau semakin buruk, dan lebih umum lagi ketika ada kesenjangan besar antara teori-teori dan nilai-nilai ideologis yang umumnya diakui dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan Durkheim, agama-agama tradisional seringkali memberikan dasar bagi nilai-nilai bersama yang tidak dimiliki oleh individu yang mengalami anomie. Lebih jauh ia berpendapat bahwa pembagian kerja yang banyak terjadi dalam kehidupan ekonomi modern sejak Revolusi Industri menyebabkan individu mengejar tujuan-tujuan yang egois ketimbang kebaikan komunitas yang lebih luas.

Robert King Merton juga mengadopsi gagasan tentang anomie dalam karyanya. Ia mendefinisikannya sebagai kesenjangan antara tujuan-tujuan sosial bersama dan cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dengan kata lain, individu yang mengalami anomie akan berusaha mencapai tujuan-tujuan bersama dari suatu masyarakat tertentu, namn tidak dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan sah karena berbagai keterbatasan sosial. Akibatnya, individu itu akan memperlihatkan perilaku menyimpang untuk memuaskan dirinya sendiri.

  1. B.     ANOMIE SEBAGAI KEKACAUAN MASYARAKAT

Kata ini (kadang-kadang juga dieja “anomy”) telah digunakan untuk masyarakat atau kelompok manusia di dalam suatu masyarakat, yang mengalami kekacauan karena tidak adanya aturan-aturan yang diakui bersama yang eksplisit ataupun implisit mengenai perilaku yang baik, atau, lebih parah lagi, terhadap aturan-aturan yang berkuasa dalam meningkatkan isolasi atau bahkan saling memangsa dan bukan kerja sama.

Friedrich Hayek dikenal menggunakan kata anomie dengan makna ini. Anomie sebagai kekacauan sosial tidak boleh dikacaukan dengan “anarkhi“. Kata “anarkhi” menunjukkan tidak adanya penguasa, hierarkhi, dan komando, sementara “anomie” menunjukkan tidak adanya aturan, struktur dan organisasi. Banyak penentang anarkhisme mengklaim bahwa anarkhi dengan sendirinya mengakibatkan anomi. Namun hampir semua anarkhis akan mengatakan bahwa komando yang hierarkhis sesungguhnya menciptakan kekacauan, bukan keteraturan (lih. misalnya Law of Eristic Escalation).

Kamus Webster 1913, sebuah versi yang lebih tua, melaporkan penggunaan kata “anomie” dalam pengertian “ketidakpedulian atau pelanggaran terhadap hukum”.

  1. C.    ANOMIE DALAM SASTRA DAN FILM

Dalam novel eksistensialis karya Albert Camus Orang Asing, tokoh protagonisnya, Mersault bergumul untuk membangun suatu sistem nilai individual sementara ia menanggapi hilangnya system yang lama. Ia berada dalam keadaan anomie, seperti yang terlihat dalam apatismenya yang tampak dalam kalimat-kalimat pembukaannya: “Aujourd’hui, maman est morte. Ou peut-être hier, je ne sais pas.” (“Hari ini ibunda meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tak tahu.”) Camus mengungkapkan konflik Mersault dengan struktur nilai yang diberikan oleh agama tradisional dalam suatu dialog hampir pada bagian penutup bukunya dengan seorang pastur Katolik yang berseru, “Apakah engkau ingin hidupku tidak bermakna?”

Dostoevsky, yang karyanya seringkali dianggap sebagai pendahulu filosofis bagi eksistensialisme, seringkali mengungkapkan keprihatinan yang sama dalam novel-novelnya. Dalam The Brothers Karamazov, tokoh Dimitri Karamazov bertanya kepada sahabatnya yang ateis, Rakitin, “…tanpa Allah dan kehidupan kekal? Jadi segala sesuatunya sah, mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai?’” Raskolnikov, anti-hero dari novel Dostoevsky Kejahatan dan Hukuman, mengungkapkan filsafatnya ke dalam tindakan ketika ia membunuh seorang juru gadai tua dan saudara perempuannya, dan belakangan merasionalisasikan tindakannya itu kepada dirinya sendiri dengan kata-kata, “… yang kubunuh bukanlah manusia, melainkan sebuah prinsip!”

Yang lebih belakangan, protagonis dari film Taxi Driver karya Martin Scorsese dan protagonis dari Fight Club, yang aslinya ditulis oleh Chuck Palahniuk dan belakangan dijadikan film, dapat dikatakan mengalami anomie.

DAFTAR PUSTAKA

Muhibin, A. Dan Arfiah, S. 2006. Modul Kriminologi. P3G DIKNAS BANDUNG dan UMS

Wikipedia. 2011. “Anomie” (online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Anomie), diakses tanggal 15 Mei 2011.

Wikipedia. 2011. ”Emile Durkheim” (online),   (http://id.wikipedia.org/wiki/%C3%89mile_Durkheim), diakses tanggal 15 Mei 2011

Anomi, strain & kesenjangan relative” (online), (http://www.google.com/search?source=ig&hl=id&rlz=1R2TSND_id&q=metode+anomi&aq=f&aqi=&aql=&oq=), diakses tanggal 15 Mei 2011.

Google. 2011. “Robert Merton: Anomie Teori” (online), (http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.d.umn.edu/~bmork/2306/Theories/BAManomie.htm), Diakses tanggal 3 Juli 2011.

Google. 1983. “Para Anomie Tradisi menjelaskan tingkat perilaku Deviant” (online), (http://deviance.socprobs.net/Unit_3/Theory/Anomie.htm), diakses tanggal 3 Juli 2011

Shvoong. 2011. “Teori Anomi (Emile Durkheim dan Robert K. Merton” (online), (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2171314-teori-anomi-emile-durkheim-dan/), diakses tanggal 3 Juli 2011.

“Anomie” (online), (http://www.criminology.fsu.edu/crimtheory/week8.htm), diakses tanggal 3 Juli 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s